Refleksi Hari Lahir Pancasila untuk Meneguhkan Kembali Nilai Dasar dalam Menjaga Demokrasi
|
SETIAP tanggal 1 Juni, kita memperingati Hari Lahir Pancasila, sebuah tonggak sejarah yang menandai lahirnya dasar ideologi negara Indonesia. Pidato yang disampaikan oleh Ir. Soekarno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945 tidak sekadar menawarkan lima sila sebagai dasar negara, tetapi juga merefleksikan semangat persatuan dan keinginan luhur untuk membangun bangsa yang adil dan bermartabat di tengah keberagaman.
Sebagai seorang anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Bireuen, saya meyakini bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila bukan hanya rutinitas seremonial, tetapi harus menjadi momen reflektif khususnya bagi kita yang berada di lembaga penyelenggara dan pengawas pemilu. Pancasila bukan hanya dasar negara dalam dokumen konstitusional, tetapi juga etika moral dan arah nilai dalam kehidupan berdemokrasi, termasuk dalam proses pemilu yang berintegritas.
Satu hal yang tak bisa kita abaikan adalah demokrasi Indonesia dibangun di atas fondasi Pancasila. Dalam praktik pengawasan pemilu, prinsip-prinsip Pancasila seperti keadilan, kemanusiaan, dan musyawarah menjadi pedoman moral yang sangat penting. Pengawasan terhadap praktik politik uang, penyalahgunaan kekuasaan, dan pelanggaran kampanye bukan hanya soal regulasi, tetapi juga tentang menjaga marwah nilai-nilai Pancasila agar tetap hidup dalam sistem demokrasi kita.
Sayangnya, dalam konteks kekinian, sering kali kita mendapati praktik politik yang justru bertentangan dengan semangat Pancasila. Nilai keadilan sosial tergeser oleh kepentingan politik praktis. Persatuan menjadi rentan terkoyak oleh polarisasi menjelang pemilu. Bahkan, semangat musyawarah dan kearifan dalam menyelesaikan perbedaan sering kali tenggelam dalam narasi konflik di ruang publik, terutama di media sosial.
Menjaga Nilai Pancasila dalam Pengawasan Pemilu
Tugas pengawasan pemilu bukan hanya soal teknis administratif, tetapi lebih dalam dari itu menjaga integritas demokrasi dan memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila benar-benar tercermin dalam prosesnya. Ketika kita menindak pelanggaran kampanye, kita sedang menegakkan keadilan. Ketika kita mencegah politik uang, kita sedang menegakkan kemanusiaan dan kesetaraan. Ketika kita mendorong penyelesaian sengketa secara adil, kita sedang menghidupkan semangat permusyawaratan.
Sebagai bagian dari Bawaslu, saya percaya bahwa mengawasi pemilu bukan sekadar menjalankan tugas kelembagaan, tetapi juga merupakan bentuk pengabdian terhadap Pancasila itu sendiri. Demokrasi yang kita jalankan haruslah demokrasi yang berakar pada nilai-nilai luhur bangsa, bukan demokrasi prosedural yang kehilangan makna.
Sudahkah Kita Mengamalkan Pancasila?
Pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan bersama dalam peringatan Hari Lahir Pancasila ini adalah sudah sejauh mana kita, baik sebagai individu maupun institusi, benar-benar mengamalkan Pancasila dalam praktik sehari-hari?
Apakah keadilan sosial telah dirasakan oleh semua kalangan? Apakah persatuan benar-benar menjadi kekuatan dalam menghadapi perbedaan pilihan politik? Apakah rakyat merasa menjadi bagian dari proses demokrasi yang adil dan bermartabat?
Jika jawabannya belum sepenuhnya, maka tugas kita masih panjang. Maka dari itu, peringatan 1 Juni tidak boleh berhenti pada upacara. Ia harus menjadi pengingat kolektif bahwa kita belum selesai berjuang. Khususnya dalam pengawasan pemilu, perjuangan ini harus diwujudkan dalam kerja-kerja nyata yang berpihak pada integritas, transparansi, dan keadilan.
Menghidupkan Pancasila, Menjaga Demokrasi
Pancasila adalah warisan paling berharga yang dimiliki bangsa ini. Tetapi seperti api, ia hanya akan tetap menyala jika terus dijaga. Maka dalam konteks tugas kami di Bawaslu, menjaga demokrasi yang sehat dan adil adalah bagian dari menjaga nyala Pancasila itu sendiri.
Sebagai anggota Bawaslu Bireuen, saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak sekadar memperingati Hari Lahir Pancasila secara simbolik, melainkan menjadikannya sebagai titik tolak untuk kembali ke akar nilai bangsa ini. Karena demokrasi tanpa Pancasila akan kering dari jiwa, dan Pancasila tanpa pengamalan akan menjadi jargon kosong.
Selamat Hari Lahir Pancasila.
Mari kita jaga bersama nyala ideologi bangsa ini dalam kata, dalam sikap, dan dalam tindakan.
Penulis:
Baihaqi, anggota Bawaslu Bireuen