Mengedukasi Publik, Misi Sunyi Tim Humas dalam Bekerja
|
Bireuen– Sosok itu terlihat duduk dengan tenang, di salah satu sudut ruang kerja di sekretariat Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslih) Kabupaten Bireuen, namun ia bergelut dengan isi pikiran, dahi berkerut nampak butiran keringat menghiasinya, ada beberapa topik penting harus disampaikan untuk edukasi kepada publik, ia fokus menatap layar monitor, bias cahaya memancarkan ke wajahnya, jelas perangkat elektronik itu selalu menjadi teman setia, laptop yang saban hari ditatap dan dioperasikan. Seringkali jarum jam dinding sudah melewati waktu pulang kantor, tapi jari-jari masih menari di atas papan ketik. Tak ada hiruk-pikuk orasi kampanye di ruangan ini. Namun di sinilah salah satu pertempuran demokrasi yang paling penting di Bireuen sedang kami perjuangkan, pertempuran melawan ketidaktahuan pemilih.
Tugas tim Humas tampak sederhana di permukaan, namun terus memproduksi konten media sosial. Namun di balik setiap infografis dan video yang kami unggah, tersimpan tanggung jawab yang berat. Kami tidak sedang mengejar popularitas pribadi. Kami sedang membangun jembatan pemahaman bagi masyarakat Bireuen tentang esensi Pemilihan Umum yang jujur dan adil.
Tantangan di Tengah Algoritma
Di era digital ini, perhatian orang adalah barang paling mahal, gawai saat ini ada di hamper semua kalangan,begitu pun informasi diperoleh dari perangkat elektronik yang bisa digenggam dan siscrol itu. Konten edukasi kepemiluan yang kami buat seringkali harus berjuang keras melawan arus algoritma. Konten hiburan yang ringan mudah meraup ribuan like, sementara postingan tentang “Mekanisme Pelaporan Pelanggaran” atau “Kenali Jenis Surat Suara” kerap tampil sunyi di beranda media sosial.
Realitas itu kadang menjadi tantangan tersendiri. Ada ironi tajam ketika sebuah konten yang dirancang berjam-jam, hanya mendapat segelintir interaksi. Terkadang muncul rasa lelah melihat angka statistik yang rendah setelah kerja panjang. Tapi kami segera mengingatkan diri bahwa metrik keberhasilan di Bawaslu bukanlah viralitas, melainkan pemahaman masyarakat. Fokus kami bukan untuk memuaskan algoritma, melainkan menanamkan literasi politik. Masyarakat Bireuen perlu tahu siapa yang layak dipilih, dan yang lebih penting, mereka harus paham ke mana harus melapor ketika melihat kecurangan atau politik uang di gampong.
Satu Like, Satu Pemilih Cerdas
Bagi tim Humas Panwaslih Kabupaten Bireuen, minimnya jumlah like tidak pernah dianggap sebagai kegagalan. Paradigma yang kami pegang teguh adalah kualitas di atas kuantitas. Ketika ada sepuluh orang yang menyukai atau sekadar melihat postingan tentang tata cara melapor, itu berarti ada sepuluh warga Bireuen yang kini memiliki “senjata” pengetahuan. Di balik angka kecil itu, ada individu yang sedang belajar dengan teliti.
Bagi kami, satu like yang sederhana itu bermakna ada orang yang sedang belajar tentang pemilu. Jika konten tersebut membuat satu orang berani melapor saat melihat pelanggaran, maka tujuan kami sudah tercapai. Setiap grafis yang dibuat adalah upaya preventif. Edukasi digital ini berfungsi sebagai alarm dini bagi demokrasi. Nilai demokrasi di Bireuen tidak ditentukan oleh jumlah like atau emoticon di layar ponsel, melainkan oleh partisipasi aktif masyarakat dalam mengawasi pemilu.
Penjaga Gawang Demokrasi
Pekerjaan tim Humas ini adalah bentuk pengawasan partisipatif dalam format digital. Kami memastikan bahwa di tengah riuh rendahnya informasi di media sosial, kanal Bawaslu Kabupaten Bireuen tetap konsisten menyuarakan kebenaran prosedur dan regulasi.
Pada akhirnya, kerja keras di balik layar ini adalah investasi jangka panjang. Masyarakat yang teredukasi adalah benteng terkuat melawan pelanggaran pemilu. Meskipun apresiasi di dunia maya tampak minim, dampak nyata dari para “pembaca sunyi” inilah yang akan menjaga kemurnian suara rakyat di Kabupaten Bireuen.[Humas]
Penulis : Staf Panwaslih Kabupaten Bireuen