Lompat ke isi utama

Berita

Bangun Laboratorium Demokrasi Kampus, Bawaslu Bireuen Bekali 35 Panitia Pemira UMMAH

Bimtek Pemira UMMAH

Anggota Bawaslu Bireuen, Baihaqi sedang menyanpaikan materi Bimtek kepada panita Pemira di UMMAH.

Bireuen — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Bireuen membekali 35 panitia Pemilihan Umum Raya (Pemira) Universitas Muhammadiyah Mahakarya Aceh (UMMAH) melalui kegiatan bimbingan teknis (Bimtek), Jum'at 23 Oktober 2026.
‎
‎Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa tentang prinsip demokrasi, integritas penyelenggara, serta tata kelola pemilihan yang adil dan transparan, khususnya menjelang pelaksanaan Pemira perdana sejak kampus tersebut berdiri.
‎
‎Materi Bimtek disampaikan oleh Komisioner Bawaslu Kabupaten Bireuen, Baihaqi, didampingi staf Bawaslu Bireuen, Taufik Hermawan dan Mutarwali. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Bagian Kemahasiswaan UMMAH, Zulfa Zainuddin, S.H.I., M.H., didampingi staf Bagian Kemahasiswaan UMMAH, Rasyidi, S.Kep., Ns.
‎
‎Dalam penyampaian materi, Baihaqi menekankan bahwa Pemira tidak semata-mata menjadi sarana memilih pemimpin mahasiswa, tetapi juga ruang pembelajaran untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan kampus. Menurutnya, mahasiswa perlu memahami bahwa kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh hasil pemilihan, tetapi juga oleh proses yang dijalankan secara jujur, adil, transparan, dan bertanggung jawab.
‎
‎“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memberikan pendidikan demokrasi kepada mahasiswa. Demokrasi tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi juga harus dipraktikkan agar nilai-nilai kejujuran, keadilan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap perbedaan benar-benar tumbuh dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Baihaqi.
‎
‎Ia menyebutkan, Pemira dapat menjadi laboratorium demokrasi yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar secara langsung tentang penyelenggaraan pemilihan, mulai dari penyusunan aturan hingga penyelesaian persoalan yang berpotensi muncul dalam prosesnya.
‎
‎“Pemira ini menjadi laboratorium demokrasi bagi mahasiswa. Di sini mereka belajar bahwa demokrasi bukan sekadar memilih siapa yang menang, tetapi juga bagaimana proses pemilihan dijalankan. Mahasiswa belajar menyusun aturan, menjaga netralitas, menghormati perbedaan pilihan, mencegah pelanggaran, serta menyelesaikan persoalan berdasarkan fakta dan ketentuan yang berlaku,” katanya.
‎
‎Baihaqi juga menyoroti pentingnya momentum Pemira perdana UMMAH sebagai fondasi dalam membangun tradisi demokrasi kampus. Ia berharap penyelenggaraan pertama ini dapat menjadi pengalaman berharga sekaligus acuan untuk pelaksanaan Pemira pada masa mendatang.
‎
‎“Karena ini merupakan Pemira perdana sejak UMMAH berdiri, ada tanggung jawab bersama untuk membangun fondasi demokrasi kampus yang baik. Pengalaman pertama ini perlu dijadikan pembelajaran agar ke depan mahasiswa memiliki tradisi pemilihan yang berintegritas, kompetitif secara sehat, dan mampu menjaga kepercayaan seluruh sivitas akademika,” tambahnya.
‎
‎Dalam Bimtek tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai prinsip dan regulasi Pemira, tahapan penyelenggaraan, pemetaan potensi kerawanan, netralitas dan integritas panitia, pencegahan pelanggaran, serta pengawasan partisipatif. Pembahasan juga mencakup kampanye yang sehat, proses pemungutan dan penghitungan suara, penanganan pengaduan dan sengketa, serta risiko yang perlu diantisipasi jika penggunaan sistem pemungutan suara digital.
‎
‎Untuk memperkuat pemahaman, peserta turut diajak membahas berbagai simulasi kasus, seperti potensi konflik kepentingan, perbedaan data hasil penghitungan suara, dan dugaan pelanggaran yang belum didukung bukti memadai. Melalui simulasi tersebut, panitia didorong mengambil keputusan secara objektif, konsisten, dan berpedoman pada aturan yang berlaku.
‎
‎Baihaqi menegaskan bahwa kepercayaan mahasiswa terhadap penyelenggara harus dibangun melalui tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan.
‎
‎“Penyelenggara harus memahami bahwa kepercayaan tidak dibangun hanya melalui pernyataan, tetapi melalui tindakan nyata. Aturan harus diterapkan secara konsisten, setiap kandidat harus diperlakukan secara adil, dan setiap laporan harus ditangani secara objektif. Jangan sampai pemilihan selesai dilaksanakan, tetapi kepercayaan mahasiswa terhadap prosesnya justru hilang,” tegasnya.
‎
‎Kegiatan berlangsung secara interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme melalui diskusi dan pembahasan kasus yang berkaitan dengan tantangan penyelenggaraan Pemira di lingkungan kampus.
‎
‎Melalui Bimtek ini, panitia diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Penyelenggaraan Pemira perdana UMMAH diharapkan bukan hanya menghasilkan pemimpin mahasiswa, tetapi juga menjadi awal terbentuknya budaya demokrasi kampus yang berintegritas, adil, transparan, dan dipercaya oleh seluruh mahasiswa.[Humas]